Selasa, 22 Mei 2012

BMP-3F: ranpur kelas berat Korps Marinir


BMP-3 Troika milik AB Rusia (foto: military-today.com)
BMP-3F adalah salah satu ranpur amfibi milik Korps Marinir yang pertama kali datang pada 27 November 2011. Meskipun barangnya baru berjumlah 17 unit (plus 1 unit BREM-L recovery vehicle), namun inilah ranpur paling modern dan tercanggih yang dimiliki Indonesia saat ini, dilihat dari kelengkapan persenjataan yang dibawa. Menurut rencana awal, dengan anggaran US$ 50 juta (waktu itu), Korps Marinir bakal mendapatkan 20 unit tank, tapi karena terjadi kenaikan harga per unit, akhirnya jumlah BMP-3F yang bisa diboyong ke Tanah Air hanya berjumlah 18 unit saja.


BVP-2, pendahulu BMP-3F di Korps Marinir
Secara teori, BMP-3F masuk dalam kelas infantry fighting vehicle atau kendaraan tempur infanteri, menjadi penerus generasi BVP-2 di Korps Marinir, tapi BMP-3F diracik dengan bekal senjata yang lumayan berat dikelasnya. Apa yang membuat BMP-3F terasa spesial? Dari beberapa varian BMP-3, tipe 3F dirancang dengan kemampuan tambahan untuk bisa berenang dengan lebih baik, yakni mampu menantang ombak laut di level 2, dan bisa beroperasi di laut selama 7 jam. Untuk menunjang kemampuan amfibinya, BMP-3F dapat dilengkapi snorkel.
Kemampuan renang BMP-3F menggunakan snorkel
(foto: military-today.com)
Senjata andalan BMP-3F adalah meriam kaliber 100mm. Meriam ini dirancang untuk menembakkan peluru/roket non-kendali. Meriam jenis ini masuk dalam kategori balistik sedang, dengan kecepatan tembak berkisar 250 m/detik. Selain itu terdapat platform peluncur rudal anti-tank (ATGM), baik yang diluncurkan langsung melalui laras meriam (laser-guided system) maupun yang terpasang pada badan panser, terdiri dari dua bidang stabilisator dari pembidik kaca utama dan sebuah sensor gyroscope.
Ki-ka: meriam otomatis 2A72 30mm, meriam/peluncur rudal
2A70 100mm, mitralyur PKT 7,62mm (foto: army-technology.com)
Konstruksi persenjataan BMP-3F merupakan penggabungan dalam satu komponen (single turetted): meriam dan peluncur roket 2A70 berkaliber 100mm, meriam otomatis 2A72 berkaliber 30mm dan mitralyur PKT berkaliber 7,62mm. Dengan penggabungan ini memungkinkan awak tank dapat memilih model keperluan penggunaan senjata yang tersedia dikaitkan dengan situasi, kondisi serta medan tempur, tergantung sasaran yang dipilih untuk dihancurkan baik sasaran di darat, laut maupun udara. Sistem persenjataan yang sama juga diaplikasikan pada BMD-4, ranpur pasukan linud Rusia. Selain itu, mesin juga diletakkan di bawah lantai pada bagian belakang kendaraan, begitu juga dengan tangki bahan bakar yang dimuat di bawah, berbeda dengan BMP-1/BMP-2 yang tangki bahan bakarnya berada di pintu keluar pasukan. Hal ini dilakukan guna meningkatkan survivabilitas pengawak ranpur maupun pasukan.
 Pintu keluar belakang pasukan pada BMP-3F. Mesin dan tangki
bahan bakar terpasang di bawah pintu keluar
BMP-3F juga memiliki kemampuan off-road yang bagus
berkat pemakaian suspensi torsion-bar (foto: military-today.com)
BMP-3F berbobot kurang lebih 18,7 ton, panjang 8 meter, lebar 3,5 meter dan tinggi 2,5 meter, dengan kapasitas awak 3 orang (komandan, pengemudi, juru tembak) serta 7 personel pasukan bersenjata lengkap. Bila dipandang dari segi bobot, BMP-3F kini menduduki peringkat sebagai kendaraan tempur kavaleri terberat yang yang dimiliki Korps Marinir, bahkan menjadi arsenal ranpur kelas berat nomer satu dibanding beragam jenis tank yang dimiliki TNI-AD. Bila dibanding tank-tank ringan milik TNI-AD, BMP-3F lebih unggul dengan adopsi meriam 100mm.
BMP-3F No. 12 dan 14 (foto: Menkav-1 KorMar)
Sebagai perbandingan, andalan kavaleri TNI-AD sampai kini masih bertumpu pada kanon 90 mm Cockerill, seperti yang terdapat pada tank Scorpion. BMP-3F mempunyai kecepatan di medan berlumpur 45 km/jam, 70 km/jam di jalan raya, 10 km/jam di air dan mampu berjalan mundur dengan kecepatan 20 km/jam. Sedangkan kemampuan jelajah tank ini adalah 600 km.
BREM-L, recovery vehicle untuk BMP-3 milik AB Yunani
Tank BMP-3F memiliki beberapa keunggulan lain, diantaranya konstruksi (chassis) yang memungkinkan untuk dimodernisasi, selain itu, perawatan dan efisien pemeliharaannya lebih mudah. Selain Indonesia dan Rusia, BMP-3F saat ini juga digunakan oleh angkatan bersenjata Ukraina, Sri Lanka, Siprus, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Bahkan yang mengejutkan, Korea Selatan yang dikenal pengasup setia teknologi militer dari Amerika Serikat, nyatanya juga memiliki 70 unit BMP-3F. Tanggal 11 Mei 2012, Kemenhan telah menandatangani kontrak pembelian senilai US$ 114 juta untuk 37 unit BMP-3F tambahan dengan JSC Rosoboronexport.

Sumber: Indomiliter (Haryo Adjie Nogo Seno), dengan beberapa perubahan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar