| ZiS-3 di Kremlin Nizhny Novgorod, Rusia (foto: Wikipedia) |
Berbicara tentang artileri yang digunakan
selama Perang Dunia II, tentu tak akan lepas dari ZiS-3. Ya, ZiS-3 atau lebih
dikenal dengan meriam divisional kaliber 76mm M1942, merupakan salah satu
meriam kaliber menengah andalan Angkatan Bersenjata Uni Soviet semasa Perang Dunia
II. Kehandalan, akurasi yang tinggi, serta daya tahan yang kuat membuat banyak
prajurit artileri Uni Soviet yang menyukainya.
Berawal dari akhir tahun 1940, ketika Vasily Gavrilovich Grabin, desainer kepala artileri kaliber menengah Soviet, mencoba membuat sendiri sebuah meriam baru di Pabrik Artileri No. 92, walaupun saat itu tidak ada pesanan dari AB Uni Soviet untuk sebuah artileri baru. Pengaruh dari propaganda Jerman tentang tank berat Neubaufahrzeug yang sukses ditelan mentah-mentah oleh Marsekal Grigory Kulik, direktur kepala artileri Soviet kala itu, membuat semua produksi meriam kaliber kecil dan menengah dihentikan seluruhnya. Ia percaya bahwa armor tank berat Jerman kala itu tidak mampu ditembus oleh munisi kaliber 37, 45, dan 76,2mm yang kebanyakan dimiliki oleh AB Uni Soviet kala itu.
| Neubaufahrzeug, tank berat Jerman |
Tapi Grabin tidak menyerah; ia tetap
melanjutkan proses pembuatan meriam barunya. Desainnya menggabungkan antara chassis ZiS-2 dan laras meriam dari
F-22USV. Untuk mengurangi efek hentakan balik saat ditembakkan, maka dipasang muzzle brake pada ujung larasnya. Banyak
bagian-bagian yang dicor, dilas, atau dicap untuk mengurangi penggunaan mesin
dalam pembuatan meriam. Dan setelah dibuat, prototipenya tetap disembunyikan
oleh Grabin sebelum keluar perintah resmi penggunaan meriam baru tersebut.
Nyatanya, pada awal Perang Dunia II, banyak sekali ranpur lapis baja Jerman
yang armornya ternyata dapat ditembus
dengan mudah oleh munisi kaliber 45 dan 76,2mm, bahkan oleh senapan mesin DShK yang
berkaliber 12,7mm sekalipun.
| Prajurit pengawak ZiS-3 terlibat pertempuran di Stalingrad (foto: waralbum.ru) |
| ZiS-3 sewaktu digunakan bertempur di Berlin (foto: waralbum.ru) |
Banyaknya meriam kaliber 76,2mm yang hilang,
hancur, atau berhasil dirampas semasa perang menimbulkan krisis logistik pada
AB Uni Soviet. Marsekal Kulik memerintahkan produksi massal ulang meriam
F-22USV, tapi Grabin tetap meminta ZiS-3 yang diproduksi massal, dan disalurkan
pada prajurit artileri Soviet di lapangan. Kebutuhan AB Uni Soviet atas meriam
baru ini terhambat oleh penolakan para wakil militer yang tidak mau menerima
senjata yang belum teregistrasi. Maka Grabin sendiri yang mengambil tanggung
jawab atas uji coba meriam baru tersebut di lapangan. Ternyata uji coba meriam
baru ini berhasil dengan sukses, bahkan waktu dipertunjukkan pada pejabat-pejabat
tinggi negara, Joseph Stalin sendiri mengatakan, “Senjata ini adalah mahakarya
desain sistem artileri!” Dan akhirnya, meriam baru karya Grabin ini resmi
diberi registrasi sebagai: Meriam divisional kaliber 76mm model 1942.
| ZiS-3 dibawa menggunakan jip Dogde WC-51 (foto: waralbum.ru) |
| Kol. Vinko Pandurevic menunjukkan pada anggota IFOR dari Amerika, sebuah ZiS-3 pada 28 Februari 1996 (foto: Wikipedia) |
Sampai akhir Perang Dunia II, ZiS-3 berhasil
diproduksi sebanyak lebih dari 103.000 pucuk. Meriam ini juga diaplikasikan
dalam chassis artileri-gerak-sendiri,
yaitu SU-76. Kemampuannya menghancurkan berbagai macam tank ringan dan medium
Jerman dengan munisi AP (armor piercing)
bahkan tank berat macam Tiger dan Panther sekalipun (dengan munisi APCR dan
proyektil hollow charge) membuat
ZiS-3 menjadi salah satu senjata andalan AB Uni Soviet. Beratnya yang ringan
juga memudahkan ZiS-3 untuk dibawa menggunakan truk, jip, kereta kuda, atau
bahkan oleh pengawaknya sendiri. Untuk melatih didikan baru, ZiS-3 juga tidak
terlalu ribet waktu dioperasikan. Setelah perang usai, banyak sekali meriam yang diekspor ke luar negeri, dan terlibat di banyak pertempuran-pertempuran lain. Bahkan, ZiS-3 sempat pula unjuk gigi dalam perang sipil di bekas Yugoslavia. Sampai saat ini, ZiS-3 pun masih dipakai oleh beberapa negara-negara Asia dan Afrika,
walaupun jumlahnya tinggal sedikit. Di Rusia sendiri, misalnya, ZiS-3 dipakai sebagai salute gun pada peringatan
Hari Kemenangan Uni Soviet atas Jerman setiap tanggal 9 Mei.
| ZiS-3 kini digunakan sebagai salute gun di Rusia (foto oleh Vitaly Kuzmin) |
Sumber: Wikipedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar